Selasa, 22 Januari 2013

[Review] Gaun-Gaun Kesunyian



Judul : Gaun-Gaun Kesunyian
Pengarang : mayokO aikO
Penerbit : Universal Nikko
Sinopsis:
Gaun-Gaun Kesunyian adalah warna cinta dan perjalanan cinta yang isnpiratif! Patah hati bukanlah warna yang gelap gulita! Ia hanyalah bagian dari kisah yang menyempurnakan sebuah warna cinta seperti gaun gaun yang menyodorkan warna-warninya. Gaun Gaun Kesunyian membuat kamu berkeliling menelusuri kota-kota indah dari Senggigi hingga Kofu di Jepang!

Gaun-Gaun Kesunyian merupakan kumpulan karya-karya dari mayokO aikO (kenapa huruf belakangnya besar dan huruf depannya kecil? Karena begitulah tulisan di buku ini. Sepertinya sang penulis ingin mencoba sesuatu yang berbeda) yang sepertinya sudah pernah diterbitkan di suatu majalah. Di setiap akhir sebuah cerita, selalu ada nama majalah dan tanggal, seperti pada cerita berjudul Seindah Mata Kristalnya, diakhirnya ada tulisan Majalah Anita, 26 Mei – 4 Jui 1997.
Buku ini memuat 14 cerpen, dengan cerita dan tokoh yang berbeda tentunya. Ke 14 cerpen itu berjudul, Gaun-gaun yang Sedih, Seindah Mata Kristalnya, Setengah Jam Saja, Valentine di Kota Masa Lalu, Diary Ketujuh Belas, Gadis Itu Bernama Kirei Na, Opera Tahun Baru, Parodi Cinta, Pelangi di Senggigi, Reinkarnasi, Tentang Bidadari Kecil, Scraf Merah Jingga, Kali ini Tentang Kehilangan dan Kali ini Tentang Luna. Kalau dilihat sekilas, judul cerpen yang pertama (Gaun-gaun yang Sedih) dan judul buku kumcer ini (Gaun-Gaun Kesunyian) mirip. Mungkin judul untuk buku ini terispirasi dari judul cerpen itu.
Karena buku ini adalah buku kumpulan cerpen jadi terdapat berbagai macam karakter di dalamnya. Ada yang yatim piatu, ada yang punya keluarga lengkap tapi ngerasa di buang. Ada yang cakep, ada yang biasa aja. Ada yang kaya, ada yang sederhana. Bahkan ada yang dari kerajaan. Tapi, kalau diteliti kebanyakan tokohnya berpenampilan modis, cakep (ganteng untuk laki-laki & cantik untuk perempuan) dan dari keluarga yang kaya. Alurnya pun beragam. Ada yang happy ending, ada juga yang sad ending. Latar tempatnya juga beragam. Ada di Indonesia, ada juga di Jepang. Tapi, kalau diteliti kayaknya lebih banyak yang sad ending dan lebih banyak yang berlatar di Indonesia, terutama di kota-kota yang ada di Jawa Tengah.
Buku ini menggunakan bahasa yang mendayu-dayu. Saking mendayu-dayunya sampai ada kalimat yang kurang komunikatif. Seperti pada kalimat langsung yang ada pada cerita Seindah Mata Kristalnya, akhir kalimatnya selalu menyebutkan nama lawan bicaranya. Misalnya,
“Bukan, Re.”
“Ya, Re.”
“Jangan, Re.”
Awalnya sih ngga papa, tapi kalau lama-lama bacanya jadi risih. Sebaiknya hanya diawal pembicaraan saja diberi kata sapaan pada akhir kalimat. Untuk kalimat selanjutnya tidak perlu karena pembaca sudah tau kepada siapa si tokoh berbicara.
            Eits, karena buku ini menggunakan bahasa yang mendayu-dayu bukan berarti buku ini jelek lho! Berkat bahasa yang mendayu-dayu itu, aku jadi punya banyak kosa kata baru. Terus dapat majas yang keren-keren.
            Oh ya, di beberapa cerita di buku ini juga dilengkapi dengan Bahasa Jepang lho! Aku jadi tau beberapa kosa kata Jepang yang baru. Tapi, sayangnya ada beberapa kalimat berbahasa Jepang yang ngga ada translatenya. Jadi, aku ngga ngerti dia ngomong apa. Sebaiknya, kalau pakai bahasa asing dilengkapi dengan terjemahannya. Kasihan kan yang ngga ngerti. Typo erorrnya juga cukup banyak.
            Untuk covernya, catchy banget. Sesuai dengan judulnya. Kalau dilihat sekilas sih kayak coretan-coretan biasa. Tapi, coba deh liat lebih teliti, sebenarnya itu gambar sebuah gaun.
            Kata-kata yang aku suka adalah penggalan kalimat langsung yang terdapat pada cerpen berjudul Gaun-Gaun yang Sedih yang berbunyi seperti ini “Hidup terlalu pendek,Roy.Tak lebih dari satu tarikan napas bila kamu mengisinya dengan sesuatu yang sia-sia.” Kata-kata itu mengingatkan aku betapa pentingnya menghargai waktu. Satu detik itu berarti segalanya. Apapun yang kita lakukan haruslah dengan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya agar kita tidak menyesal nantinya.
            Well, buku ini cukup berkesan buat aku. Kenapa aku bilang cukup berkesan? Karena ada beberapa cerita yang mampu buat aku terpukau, saking terpukaunya sampai nangis. Tapi, ada beberapa yang bikin bosen. Buku ini cocok untuk para pecinta kumpulan cerpen dan para pecinta cerita dengan gaya bahasa yang mendayu-dayu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar